Tulisan Bergerak

Selamat Datang. Selamat Mengunjungi halaman blog saya. Semoga anda menyukainya dan menemukan apa yang engkau cari. Terima Kasih. Barakallah.

Minggu, 10 Juli 2022

Sejarah Perjuangan Rakyat Musi Ulu Rawas dalam Melawan Jepang di Lubuklinggau Tahun 1945


 A.  Pencurian Senjata Jepang

Di daerah Lubuklinggau (Kabupaten Musi Ulu Rawas), penyerahan kekuasaan sipil dari Bunshu-tyo (Bupati) Jepang bernama Swada kepada Raden Ahmad Abusamah (Wakil Bupati Jepang) berjalan lancar, dua hari setelah proklamasi kemerdekaan RI, yaitu pada tanggal 19 Agustus 1945.[1] Demikian halnya dengan penyerahan senjata kepada pihak pejuang Musi Ulu Rawas, dilakukan dengan cara sukarela oleh pihak Jepang. Misalnya, Mantri Kaso (Mantri Perkebunan Jarak) menyerahkan 65 pucuk karaben, 60 peti peluru dan 60 kaleng minyak tanah. Dan penyerahan senjata secara sukarela juga dilakukan oleh Kapten Sasaki yang menyerahkan 65 pucuk karaben, 40 kaleng peluru, 200 keping seng, 20 rol kawat berduri, 50 buah tang, 200 buah cangkul, 200 buah sekop, dan 200 buah sekop garpu. Barang-barang itu dibawa ke rumah M. Ali (juru tulis marga) di Bukit Cermin (Karangjaya), di daerah Rawas.[2] Akan tetapi, ketika pasukan Sekutu tiba, senjata-senjata tersebut di atas diminta untuk diserahkan kepada Sekutu, jadi yang diserahkan hanya 65 pucuk karaben dan 40 kaleng peluru.

 Seperti diketahui, saat sebelum kedatangan Sekutu, hubungan antara Jepang dan pimpinan sipil serta para pejuang Indonesia berjalan relatif cukup baik. Jepang telah mengetahui apa tugas mereka sebelum Sekutu mendarat, sesuai dengan perjanjian Postdam pada 3 Juli 1945, serta Perintah Umum No. 1 dari pihak Sekutu, bahwa agar Jepang tidak menyerahkan senjatanya kepada pihak Indonesia, namun Jepang bersikaf acuh tak acuh dan tidak mematuhi keputusan itu, terutama daerah di luar Jawa.

Sikap Jepang yang agak melunak itu berubah menjadi keras dan bermusuhan dengan rakyat Indonesia setelah pasukan Sekutu mendarat pada tanggal 29 September 1945, kemudian langsung memberikan peringatan keras kepada pimpinan pasukan Jepang yang telah menyerahkan kekuasaan sipil dan persenjataan kepada pihak Indonesia.[3] Begitupun sebaliknya, sikap pihak Indonesia juga berubah setelah diketahui bahwa Jepang dipergunakan Sekutu (Inggris) untuk mengembalikan kekuasaan Belanda menyamar sebagai NICA, datang bersama dengan Sekutu. Oleh karena itu, pada periode bulan Oktober-Desember 1945 di beberapa daerah banyak terjadi aksi-aksi perebutan senjata dari tangan Jepang oleh pejuang Indonesia.

Di Lubuklinggau, tindakan pencurian dan perampasan senjata dari tentara Jepang dilakukan oleh para pemuda BPRI (Barisan Pemberontak Republik Indonesia). Mereka terlebih dahulu mengadakan pertemuan para anggota BPRI yang dihadiri lebih kurang 20 orang pada awal bulan Desember 1945. Dalam pertemuan itu diputuskan bahwa Ali Kuang dari Muara Kuang, Gidug (Abdullah) dari Taba Pingin, Beluluk dari Belalau, dan Tap Iman dari dusun Petunang, mereka menamainya sebagai “pasukan istimewa” akan melakukan pencurian senjata di gudang senjata yang terletak di depan Stasiun Kereta Api (sekarang menjadi gedung Polisi Militer) dan Pasar Muara Lama (Pasar Buah). Mereka berhasil mencuri 24 buah senjata api dan 4 kotak peluru. Senjata-senjata itu diserahkan kepada komandan BPKR Tebing Tinggi, Kapten Zainal Abidin Ning untuk dibagi-bagikan kepada para pemimpin pasukan.

 

B.  Penculikan Serdadu Jepang dan Pembunuhan Orang Switzerland

Selain mencuri senjata, para pejuang ini rupanya juga melakukan penculikan serdadu Jepang yang menjaga pabrik industri kelapa sawit di Taba Pingin oleh para pemuda BPRI dan pejuang dari marga Tiang Pumpung Kepungut dan Marga Proatin V. Akibatnya ketika kekerasan diperlihatkan oleh pejuang-pejuang ini maka membuat Jepang marah terhadap perjuangan rakyat Musi Ulu Raw56as.

Mereka juga menculik orang Switzerland yang terdaftar pada administrasi Jepang untuk mengelola pabrik kelapa sawit di Taba Pingin, mereka menjadi tanggung jawab Jepang untuk menjaga keamanannya. Kemudian orang Switzerland ini dibunuh dan harta bendanya dirampas oleh pejuang.[4] Akibat kematian itu, tentara Jepang tidak tinggal diam. Setiap hari mulai keluar pasukan Jepang dengan bersenjata lengkap, mondar-mandir melakukan penyelidikan untuk mencari pelaku pembunuhan itu. Akibatnya banyak tokoh-tokoh pejuang dan pemuka masyarakat yang ditangkap dan ditahan oleh Jepang, mereka dicurigai telah melakukan dan mendukung kegiatan tersebut, diantaranya yaitu Pangeran Mantab (Pasirah Marga Tiang Pumpung Kepungut), Pangeran Amin (Pasirah Marga Proatin V) beserta istri[5], Djikun (Gindo Taba Pingin), serta beberapa pemuda pejuang. Mereka dimasukkan ke dalam tahanan Butai Jepang di Lubuk Tanjung (yang sekarang menjadi komplek Kodim 0406 Lubuklinggau).[6]

 

C.  Pertempuran 30 Desember 1945

Kemarahan Jepang tidak cukup sampai disitu saja, sebab serdadu Jepang perhatiannya mulai tertuju pada Bendera Merah Putih yang ketika itu sudah banyak dipancangkan di pagar atau halaman rumah masyarakat di sepanjang pinggiran jalan raya, mulai dari Lubuklinggau sampai ke arah Taba Pingin. Dalam patrolinya, serdadu Jepang menurunkan paksa bendera Merah Putih itu. Sehingga situasi di Musi Ulu Rawas mulai gawat, apa yang diperbuat Jepang seolah-olah akan menjajah kembali. Penurunan bendera merah putih itu atas suruhan Sekutu. Melihat peristiwa itu meluaplah amarah rakyat Musi Ulu Rawas. Semangat rakyat waktu itu meluap-luap, berkobar-kobar membenci dan mengutuk tindakan Jepang.

Kemudian situasi bertambah panas ketika tawanan perang Belanda yang ditawan Jepang di kamp perkebunan karet Belalau dibebaskan dan dipersenjatai oleh pihak Sekutu.[7] Kejadian itu diketahui oleh BPKR dan pemuda pejuang dari daerah Kawedanan Rawas dengan komandan Lettu. M.Y. Yusuf Cholidi.[8] Hal ini menimbulkan kemarahan mereka, apalagi diketahui BPKR Kawedanan Musi Ulu anggotanya belum memadai jumlahnya.[9] Untuk mengantisipasi gejala yang dilakukan Jepang, pimpinan BPKR dari Rawas dan Musi Ulu segera melakukan rapat pertemuan untuk menentukan sikap dan tindakan. Hasil pertemuan diputuskan untuk mempersiapkan kekuatan dari dua Kawedanan ini pada Desember 1945 untuk bersama-sama menggempur markas Jepang di gedung dekat pasar Lubuklinggau, depan Stasiun Kereta Api Lubuklinggau.


Kapten Yusud Cholidi, pimpinan BPKR Kawedanan Rawas 
Sumber: Arsip Museum Subkoss, Lubuklinggau


Pimpinan rapat BPKR dari Lubuklinggau diwakili Sai Husin, dari Muara Beliti diwakili oleh Kapten Sulaiman Amin, dan dari Surulangun Rawas diwakili oleh Yusuf Cholidi dan Yusuf Rusdi. Selain dari memutuskan untuk melakukan penyerangan, juga disepakati isyarat-isyarat yang harus dipatuhi saat penyerangan, diantaranya:

1)   Memutuskan hari H dan jam D, yaitu dengan tanda beduk shubuh merupakan siap siaga adalah beduk yang pertama.

2)   Tembakan pertama dilakukan oleh pasukan dari Rawas.

3)   Tembakan kedua dari Musi Ulu.

4)   Kedua tembakan itu berarti kedua pasukan dari dua arah telah berada dekat dengan sasaran.

5)   Tembakan ketiga dari pasukan Rawas, dan tembakan keempat dari pasukan Musi Ulu menandakan segera dengan serentak menyerbu.  



Kapten Sulaiman Amin, pimpinan BPKR Kawedanan Rawas
Sumber: Arsip Museum Subkoss, Lubuklinggau

Sehingga dalam pertemuan itu, diputuskan bahwa semua laki-laki (kecuali yang sudah tua), terutama yang memiliki ilmu kebal (dubalang) harus berangkat ke Lubuklinggau yang berjarak 124 km, teruntuk pasukan yang berasal dari Kawedanan Rawas. Selain pasukan BPKR Rawas dan laskar rakyat, turut serta beberapa orang dari Suku Anak Dalam (SAD) yang berasal dari Surulangun, Rawas Ulu, dan Sungai Kijang. Ditambah para pemuda dari Lesung Batu, Maur, Muara Rupit, dan Terawas. Mereka berjalan kaki dengan membawa peralatan senjata apa adanya berupa tombak/kujur, keris, pedang, bambu runcing. Mereka yang berjumlah lebih kurang 600 orang berjalan dengan semangat tinggi dan dengan suara nyaring meneriakkan “Allahu Akbar”. Pasukan dari Rawas ini berjalan selama tiga hari tiga malam.   

 Semangat dan partisipasi rakyat Rawas Ulu di Kawedanan Rawas sangat besar. Mereka secara ikhlas menyiapkan makanan dan minuman di sepanjang jalan yang dilewati pasukan Rawas Ulu.[10] Bahkan sebelum mereka berangkat, banyak penduduk dari perbatasan Jambi juga memberikan makanan. Setelah tiba di Muara Rupit, perjalanan dilanjutkan menuju dusun Selangit untuk beristirahat. Pada waktu mereka bermalam di Selangit, pasukan Rawas Ulu dijamu oleh Pasirah Sani (kepala marga Batu Kuning Lakitan) beserta keluarganya, dan juga masyarakat yang membuatkan dapur umum. Mereka menyiapkan tempat istirahat, makanan minuman bagi para pejuang yang akan melanjutkan perjalanan ke Lubuklinggau.

Sementara pasukan Rawas Ulu beristirahat, pimpinan mereka mengadakan kontak dengan pimpinan pasukan dari Kawedanan Musi Ulu dipimpin Kapten Sulaiman Amin. Telah diinformasikan bahwa pasukan Lubuklinggau dan juga pasukan dari luar kota Lubuklinggau telah siap, seperti pasukan dari Talang Jawa Ujung, Taba Pingin, Tugumulyo, Muara Beliti, Muara Kelingi, dan Muara Kati. Mereka semua tinggal menunggu aba-aba pertama dari pasukan Rawas Ulu dari Kawedanan Rawas sesuai dengan kesepakatan.

Pada tanggal 29 Desember 1945, diputuskan pada malam waktu dinihari pukul 02.00 (artinya sudah malam tanggal 30 Desember), pasukan Rawas Ulu turut disertai masyarakat Selangit mulai bergerak, dari Selangit menuju Lubuklinggau. Pasukan yang paling depan ialah Suku Anak Dalam yang tidak mempan dengan peluru (dubalang). Mereka bergerak dengan berjalan kaki sejauh kurang lebih 20 km, diperkirakan tiba di Lubuklinggau pada waktu beduk shubuh pertama, namun perhitungan waktu meleset. Ternyata pasukan Rawas Ulu ketika tiba di Dusun Megang, cahaya matahari pagi mulai tampak, tepat pada jam 06.00 pagi telah menyinari Lembah Bukit Sulap. Sementara itu, pasukan dari Musi Ulu telah gelisah menunggu. Karena ketika suara beduk shubuh pertama, tidak terdengar isyarat tembakan pertama dari pasukan Rawas, sementara suara adzan telah berkumandang.

Tidak mau mengambil resiko dan diduga pasukan Rawas tidak jadi masuk, maka pasukan Musi Ulu mengambil sikap mundur dengan teratur. Pasukan Rawas sadar bahwa keterlambatan mereka tiba di Lubuklinggau itu berarti sama dengan kegagalan dalam menempuh jalur isyarat yang telah disepakati antara pimpinan pasukan Rawas dengan pasukan Musi Ulu. Oleh karena itu, mereka segera mengadakan rapat kilat dengan memutuskan untuk pasukan tetap terus bergerak maju menuju markas Jepang, tanpa ada perhitungan strategi.[11]

Karena hari sudah pagi, tentara Jepang telah bangun dan siap berolahraga. Begitu ada pasukan datang menyerbu mereka, pasukan Jepang telah siap menunggu dengan senjata diacungkan kearah datangnya pasukan Rawas dan Musi Ulu. Pasukan yang merasa dirinya kebal, tanpa ragu-ragu serentak menyerbu, seperti dilakukan K.H. Muhammad Nuh, K.H. Latif, Muhammad Syah dan H. Muhammad Tohir.

Perang berkecamuk tidak berjalan lama, serdadu Jepang memuntahkan peluru senjata mortir, dan senapan mesin ditembakkan secara membabi buta. Pejuang yang tidak tembus peluru, namun karena bertubi-tubi diterjang peluru dari jarak dekat, akhirnya Jepang berhasil menangkap H. Muhammad Tohir, Muhammad Syah (Matsah) dan beberapa orang anak buahnya.[12]   

Semua yang berhasil ditawan dikumpulkan di Terminal Mobil (sekarang terminal pasar atas). Di sekeliling terminal berpagar kawat berduri. Pada saat pasukan Jepang memeriksa tawanan, seperti Muhammad Syah (Matsah) yang keadaannya sudah pulih setelah goyah ketika terkena hantaman peluru bertubi-tubi. Saat serdadu Jepang mendekati yang hendak mengikat tangannya, kesempatan baik bagi Matsah dengan cepat menarik jamblo (sejenis senjata tajam mirip keris) lalu ditikam ke dada serdadu Jepang. Maka pada saat itulah, para tawanan yang lain mengambil kesempatan untuk melarikan diri.[13]

Saat korban Matsah jatuh terkulai berlumuran darah, membuat sirine “Kushu Keibo” sebagai tanda bahaya mulai terdengar meraung-raung. Seluruh serdadu Jepang diperintahkan untuk siap tempur, mereka menembak tak tentu arah dengan melontarkan peluru senapan mesin. Peristiwa ini membuat penduduk yang akan ke pasar mengurungkan niatnya untuk berbelanja, los-los pasar tidak jadi dibuka, dan orang-orang yang terlanjur datang ke pasar terjebak dalam kancah pertempuran itu.

Karena kekuatan tidak seimbang, maka pasukan Rawas dan Musi Ulu yang hanya mengandalkan senjata tradisional melawan pasukan Jepang bersenjata modern, menimbulkan banyak korban pertempuran, tidak dapat dielakkan dari pejuang rakyat Musi Ulu Rawas yang banyak berjatuhan. Sejumlah 63 orang pejuang gugur, diantaranya Sersan Juri, Abdul Kadir Malabar, 2 orang Suku Anak Dalam dan 59 orang tidak dikenal identitasnya, sehingga mereka disebut “Pahlawan tak Dikenal”, jenazah mereka waktu itu dimakamkan dibelokkan Rumah Sakit Umum (sekarang RSU. Sobirin), berseberangan dengan rel kereta api.[14]  

Setelah itu pasukan diperintahkan mundur perlahan-lahan namun pertempuran-pertempuran kecil masih berlanjut, jadi situasi di Lubuklinggau belum aman. Pasukan Jepang masih berjaga-jaga. Pasukan Rawas menunggu ke pinggir kota, belum pulang ke Rawas. Mereka baru pulang ke Rawas setelah delegasi dari pemerintah RI dari BPKR Palembang tiba untuk berunding dengan Jepang. Maka diutuslah Kolonel Hasan Kasim, Letnan Kolonel N.S. Effendi dan Letnan Suprapto. Sedangkan dari kepolisian diutus Mayor Zen dan R.M. Mursodo. Dari Lubuk Linggau sendiri yang hadir adalah Kapten Sai Husin, Kapten Sulaiman Amin, H. Kodar, Yusuf Cholidi, H. M. Tohir dan seluruh aparat kepollisian. Hasil perundingan adalah sebagai berikut:

1)   Jepang akan segera meninggalkan Lubuklinggau dan menyerahkan kekuasaan sepenuhnya kepada pemerintahan di Lubuklinggau.

2)   Para pemuda-pemuda dan pejuang tidak lagi melakukan serangan-serangan terhadap Jepang. Setelah Jepang meninggalkan Lubuklinggau, barulah rakyat merasa lega.

Maka, setelah diadakan perundingan tersebut, tidak lagi terjadi bentrokan dengan pasukan Jepang. Dan Bendera Merah Putih dinaikkan kembali di Lubuklinggau sebagai kedudukan Kabupaten Musi Ulu Rawas.

 


Monumen Perjuangan Rakyat Musi Ulu Rawas dalam Melawan Jepang Tahun 1945 

(Dibangun tahun 1972)




Selengkapnya bisa dibaca pada buku Musi Ulu Rawas dalam Kajian Sejarah Lokal tahun 2022 di Museum Perjuangan Subkoss Garuda Sriwijaya.


 

 

REFERENSI

Maaruf, Abd. Aziz. Sekelumit Sejarah Perjuangan Subkoss Garuda Sriwijaya Sumatera bagian Selatan. Lubuklinggau: Yayasan Perjuangan Subkoss Garuda Sriwijaya Perwakilan Kabupaten Dati II Musi Rawas, 1989.

Pemkab Mura. Sejarah Dan Peranan Sub Komandemen Sumatera Selatan (SUBKOSS) Dalam Perjuangan Rakyat Musirawas 1945-1950. Musirawas: Pemerintah Kabupaten Musirawas, 2002.

Subkoss, Tim Penyusun Sejarah Perjuangan. Sejarah Dan Peranan SUBKOSS Dalam Perjuangan Rakyat Sumbagsel (1945-1950). Edited by Amran Halim. Palembang: Dewan Harian Daerah 45 Sumatera Selatan, 2003.

 

 



[1] Dengan disaksikan beberapa tokoh pemuda antara lain: dr. Soefaat, Zaikadir, Ki Agus Anwar, Noersaman, Pangeran Ramitan, Nawawi Ramitan, Demang Ahmad, dan lain-lain. (Selengkapnya baca “Sejarah Lubuklinggau” tahun 2021).

[2] Tim Penyusun Sejarah Perjuangan Subkoss, Sejarah Dan Peranan SUBKOSS Dalam Perjuangan Rakyat Sumbagsel (1945-1950), ed. Amran Halim, (Palembang: Dewan Harian Daerah 45 Sumatera Selatan, 2003), hlm. 82.

[3] Di Palembang, Sekutu mendarat pada tanggal 12 Oktober 1945 untuk melucuti tentara Jepang, dengan kekuatan satu Brigade dibawah pimpinan Mayor Fordes, kemudian diganti Mayor Hutchinson. 

[4] Orang Switzerland ini sudah bekerja sejak masa kolonial Belanda, namun ketika Jepang berkuasa masih diteruskan oleh mereka. Maka saat penculikan itu, para pejuang pada umunya tidak dapat membedakan apakah seseorang itu berkebangsaan Switzerland, Inggris, Australia ataupun Amerika. Bagi mereka, asal kulit putih dan hidungnya mancung dianggap orang Belanda yang harus dilenyapkan dari Musi Ulu Rawas. Perintah penculikan ini dilakukan Saifudin Toha, Wadayon, dan Kapten Zainal Abidin Ning kepada “pasukan istimewa” terdiri 13 orang yakni: Beluluk (pimpinan), Ali Kuang, Gudig, Tap Iman, dan lain-lain. 

[5] Penangkapan istri Pangeran Amin, ada 2 versi sumber. Pertama; ada yang mengatakan ditangkap, kedua; ada juga yang mengatakan tidak ditangkap.

[6] Tim Penyusun Sejarah Perjuangan Subkoss, Sejarah Dan Peranan SUBKOSS Dalam Perjuangan Rakyat Sumbagsel (1945-1950), hlm. 83; Pemkab Mura, Sejarah Dan Peranan Sub Komandemen Sumatera Selatan (SUBKOSS) Dalam Perjuangan Rakyat Musirawas 1945-1950, (Musirawas: Pemerintah Kabupaten Musirawas, 2002), hlm. 80.

[7] Kamp tawanan perang Jepang di Belalau dikosongkan tanggal 8 Oktober 1945 oleh Sekutu. Akan tetapi, Sekutu baru tiba di Palembang tanggal 13 Oktober 1945. Dapat disampaikan bahwa Sekutu telah mempersiapkan tim pembebasan tawanan terlebih dahulu untuk memasuki Lubuklinggau dengan terjun payung menggunakan pesawat.(Selengkapnya baca pada Bab 3).

[8] Pembentukan BPKR untuk Kawedanan Rawas dipelopori oleh M. Hasan, yang kemudian mengadakan rapat musyawarah di akhir bulan September 1945 dilaksanakan di Sungai Baung. Dan terhitung mulai tanggal 25 Oktober 1945, BPKR Kawedanan Rawas dibentuk di bawah BPKR Karesidenan Palembang dipimpin Kolonel Hasan Kasim. BKR merupakan Badan Keamanan Rakyat (BKR) yang dibentuk pemerintah RI, namun di Karesidenan Palembang, BKR dinamakan BPKR (Badan Penjaga Keamanan Rakyat) dibentuk sejak 13 September 1945.

[9] Pembentukan BPKR untuk Kawedanan Musi Ulu sangat terlambat dibanding daerah Kawedanan Rawas, karena serdadu Jepang masih berada di Lubuklinggau.

[10] Sebab pendukungnya adalah munculnya seorang pemprakarsa perlawanan rakyat terhadap pasukan Jepang yang berhasil membangkitkan semngat, yaitu Pangeran Emir Muhammad Noor yang merupakan mantan pendidikan militer Jepang “Gyugun” Pagaralam yang mengangkat dirinya sendiri sebagai Panglima TKR Sumatera Selatan berpangkat Jenderal Mayor. Semakin lama pengaruhnya semakin meluas, sehingga dapat membentuk markasnya di Surulangun Rawas. Ketika pimpinan BPKR Kawedanan Rawas sedang mempersiapkan keberangkatan, Pangeran Emir ini telah berada di Surulangun Rawas dan hendak menuju Jambi bertemu dengan Letkol Abunjani.

[11] Keputusan yang diambil diistilahkan “kepalang mandi basah, kepalang telah maju berpantang surut” dengan pekik “esa hilang, dua terbilang” takdir yang tiada terputus.

[12] Pemkab Mura, Sejarah Dan Peranan Sub Komandemen Sumatera Selatan (SUBKOSS) Dalam Perjuangan Rakyat Musirawas 1945-1950, hlm. 89.

[13] Abd. Aziz Maaruf, Sekelumit Sejarah Perjuangan Subkoss Garuda Sriwijaya Sumatera bagian Selatan, (Lubuklinggau: Yayasan Perjuangan Subkoss Garuda Sriwijaya Perwakilan Kabupaten Dati II Musi Rawas, 1989), hlm. 5.

[14] Dan dikemudian hari, pada tahun 1972 yang dimakamkan disana dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Patria Bukit Sulap. Maka kerangka tulangnya yang dipindahkan. Nama-nama itu dan beberapa pahlawan tanpa nama bisa dicek disana.



Sejarah Perjuangan Letkol Atmo Wiryono di Lubuklinggau

 

Pada saat-saat menjelang Perang Kemerdekaan II pada tahun 1948, seluruh unsur militer TNI dan badan-badan perjuangan sangat perlu melakukan penambahan pasukan. Dan tidak kalah penting ialah usaha untuk memperoleh persenjataan guna mendukung kekuatan tempur pasukan tentara RI dalam menghadapi musuh yaitu Belanda. Mengingat Belanda sangat gencar terus merongrong kedaulatan Indonesia yang telah merdeka dengan terus memperkuat kedudukannya untuk menguasai kembali bekas tanah jajahannya yakni Hindia Belanda.

Usaha untuk mendapat senjata sangatlah sulit dan beresiko, terutama saat mendatangkan senjata dari luar negeri. Hal ini disebabkan bahwa angkatan laut Belanda memperketat pengawasan dengan memblokade pelaut-pelaut pejuang Indonesia hampir di seluruh perairan Indonesia. Walaupun sedang gencarnya blokade Belanda, para pelaut-pelaut Indonesia tidak henti-hentinya terus mencoba menerobos blokade Belanda untuk mengusahakan supply senjata dari Singapura yang akan dipergunakan untuk perjuangan khususnya di Sumatera bagian Selatan. Namun senjata yang diselundup tidaklah banyak, hanya beberapa pucuk saja.

Supply senjata dari luar negeri yang penuh tantangan dan berbahaya ini tidak dapat sepenuhnya menjadi andalan guna mencukupi kebutuhan senjata pasukan RI terutama di Sumatera bagian Selatan yang dipertahankan oleh pasukan Sub Komandemen Sumatera Selatan (SUBKOSS) yang dipimpin Kolonel Maludin Simbolon. Sehingga mau tidak mau, supply senjata buatan dalam negeri harus dilakukan sendiri. Oleh karena itu, perlu didirikan pabrik senjata. Ketika markas SUBKOSS telah berada di Lubuklinggau sejak bulan Juli 1947, pabrik senjata didirikan di Lubuklinggau di bawah pimpinan Letkol Atmo Wiryono dan Mayor Darko. Keduanya merupakan bagian dari struktur SUBKOSS bagian persenjataan. Pabrik senjata ini sangatah sederhana. Pembuatannya dari bahan dan peralatan serba buatan sendiri layaknya bangsal pandai besi.

Alamsyah (1987:138) dalam bukunya menceritakan bahwa sebelum perundingan Renville antara RI dan Belanda, telah mencoba membuat berbagai macam senjata dan amunisi, maka sesudah perundingan Renville, pembuatan senjata dan amunisi ditingkatkan lagi, dengan peningkatan kualitas dan dibuat dengan sangat berhati-hati. Hal ini dengan maksud agar jangan sampai terjadi kecelakaan yang menimpa anggota tentara, seperti yang pernah terjadi pada Letkol Atmo Wiryono yang tewas karena terkena ledakan mortir buatan sendiri. Pabrik senjata yang agak maju menurut ukuran saat itu berada di Gunung Meraksa, Lampung dibawah pimpinan Kapten Margono. Senjata yang dibuat benar-benar apa adanya, kendati untuk membuat mortir cukup dari potongan pipa tiang telepon dan tiang listrik, demikian juga membuat senjata kecepek. Amunisi dan bahan peledak sederhana telah diperbaiki mutunya, sehingga kemungkinan menimbulkan korban dapat dikurangi. Hal ini akan meninggikan semangat para tentara yang akan menggunakan senjata tersebut pada setiap front pertempuran. Pabrik senjata seperti di Gunung Meraksa juga terdapat di Lubuklinggau, yang dipimpin oleh Mayor Darko. Pabrik di Lubuklinggau juga membuat senjata-senjata sederhana seperti yang diproduksi di Lampung tadi.

Dalam buku Noor Johan Nuh (2019:107), putra dari pejuang Kolonel Muhammad Nuh yang berasal dari Dusun Merapi di Lahat ini menceritakan bahwa awal perjuangan dari Atmo Wiryono dimulai dari pekerjaannya di Tambang Batu Bara Ombilin di Sawahlunto, Sumatera Barat. Ia sangat ahli dalam bidang teknik dan bahan peledak. Ia sangat ingin masuk tentara untuk menyumbangkan keahliannya terutama dalam memperbaiki senjata-senjata yang rusak yang ada di Sumatera Barat sesuai dengan keahliannya, sekaligus mampu membuat senjata yang dibutuhkan tentara. Keahliannya ini termonitor oleh Komandemen Sumatera yang bermarkas di Bukit Tinggi. Maka panglima Komandemen Sumatera yaitu Mayjend. Suhardjo Hardjowardoyo menetapkannya untuk membantu markas komandemen.


Kolonel Muhammad Nuh, sosok yang menemukan bakat Atmo Wiryono 
Sumber: Arsip Museum Subkoss, Lubuklinggau


Mengetahui keahlian Atmo, kepala staf Komandemen Sumatera yaitu Kolonel Muhammad Nuh mengusulkan agar Atmo Wiryono dipindahkan dari Tambang Batu Bara Ombilin menuju Tambang Batu Bara di Tanjung Enim. Karena Kolonel Muhammad Nuh tau persis bahwa ditempat itu masih banyak tersedia bahan-bahan yang bisa dijadikan dinamit, apalagi di Lahat juga tersedia bengkel kereta api yang tentu saja peralatan di bengkel itu sangat dibutuhkan untuk memperbaiki dan membuat senjata.

Usul Kolonel Muhammad Nuh ini disetujui oleh Panglima Komandemen Sumatera, lalu Atmo kemudian dipindahkan ke Lahat untuk tugas memperbaiki senjata-senjata yang rusak, merawatnya, dan membuat senjata-senjata baru bagi kepentingan tentara. Dengan demikian, Atmo Wiryono yang ditugasi mengkoordinir pekerjaan itu yang diberi pangkat Letnan Kolonel, dan masuk dalam struktur Divisi I Lahat/Sumsel di bawah Komandemen Sumatera. Menariknya, Divisi I Lahat/Sumsel ini dipimpin oleh Kolonel Maludin Simbolon tahun 1945-1946. Sehingga pada saat Kolonel Maludin Simbolon menjadi Panglima SUBKOSS di Lubuklinggau tahun 1947-1948, Letkol Atmo Wiryono menjadi Kepala Bagian Persenjataan dalam struktur SUBKOSS.    

Dalam keterangan Abi Hasan Said (1990) yang juga sebagai teman semasa perjuangan Letkol Atmo Wiryono, dalam arsip wawancaranya mengatakan bahwa pasukan SUBKOSS (Sub Komandemen Sumatera Selatan) kala itu mengadakan latihan militer dan sangat berkesan karena dilatih oleh Letkol Atmo Wiryono. Latihan ini memiliki tugas rahasia untuk menyerang Belanda di Lahat dengan mendatangkan senjata dari Komandemen Sumatera bermarkas di Bukit Tinggi berupa Mortir. Jadi latihan ini dilakukan bagaimana cara menggunakan mortir tersebut. Sampai pada ujicoba senjata mortir dengan menggunakan peluru yang pelaksanaannya di daerah Mesat yang dipimpin Letkol Atmo Wiryono, didampingi Kolonel Hasan Kasim, Kapten JM. Pattiasina, dan Kapten Abi Hasan Said sendiri. Tugas untuk ujicoba senjata tersebut akan dilakukan sendiri oleh Abi Hasan Said, namun Letkol Atmo melarangnya. Tugas ujicoba itu haruslah pasukan yang akan melaksanakan penyerangan tersebut. Namun terjadilah suatu kecelakaan, peluru mortir meledak saat masih berada dalam lube. Sehingga Letkol Atmo Wiryono meninggal dengan keadaan yang tubuhnya hancur dan uratnya putus, bersama dengan 3 orang prajuritnya (salah satunya bernama Hasballah). Setelah diperiksa lebih lanjut, bahwa mortir tersebut tidak asli. Lube terbuat dari bekas tiang listrik, namun pelurunya asli. Meledaknya mortir ini akibat kebocoran pada lube tersebut. Alhasil, rencana menyerang Belanda di Lahat terpaksa dibatalkan. 


Kapten Abi Hasan Said sebagai saksi hidup Letkol Atmo Wiryono
Sumber: Arsip Museum Subkoss, Lubuklinggau 


Tentu saja peristiwa ini menjadi kenyataan yang tidak bisa dihindari oleh Kapten Abi Hasan Said ketika Letkol Atmo Wiryono harus meregang nyawa. Letkol Atmo Wiryono menghembuskan nafas terakhir dipangkuannya. Pesan terakhirnya hanya ada alamat dan foto keluarga yang terdapat dalam dompet untuk dikirim pada keluarganya agar mengetahui bahwa ia telah meninggal dunia. Hal ini patut dijadikan pelajaran bagaimana sikap patriotisme seorang Letkol Atmo Wiryono yang betul-betul militer secara lahir dan bathin.

Menurut Suwandi (2005:17-18) menjelaskan bahwa Letkol Atmo Wiryono dimakamkan di pemakaman yang pada masa itu berada di belakang Rumah Sakit Umum (sekarang RSUD Sobirin). Namun pada saat Makam Pahlawan dipindahkan tahun 1972 ke Taman Makam Pahlawan Patria Bukit Sulap pada masa Bupati Musi Rawas, Muchtar Aman. Penjelasan dari Abd. Aziz Maaruf (1989:23) mengatakan bahwa kerangka tulang Letkol Atmo Wiryono telah terlebih dahulu dipindahkan ke Palembang sejak tahun 1952, bersama dengan kerangka tulang anak buahnya yaitu Kopral Muhtar dan Kopral Makruf.

Makanya, kerangka tulang dari makam Letkol Atmo Wiryono tidak terdapat di Taman Makam Pahlawan Patria Bukit Sulap. Kemudian untuk mengenang perjuangan beliau, nama Letkol Atmo telah diabadikan menjadi nama jalan baik di Kota Lubuklinggau dan juga di Kota Palembang. Termasuk nama Kopral Makruf juga diabadikan sebuah nama jalan kecil di Kota Lubuklinggau, namun nama Kopral Muhtar yang pernah dijadikan nama jalan kecil, saat ini telah berganti menjadi Jln. Hujan Gerimis.

Berdasarkan penjelasan di atas, sekaligus untuk meluruskan sejarah yang telah berkembang sejak tahun 2000-an bahwa monumen yang terletak di dekat rel kereta api di Jalan Garuda di Kota Lubuklinggau ‘bukanlah’ monumen untuk mengenang Letkol Atmo Wiryono, melainkan itu adalah Monumen Perjuangan Rakyat Musi Ulu Rawas untuk mengenang peristiwa pada tanggal 30 Desember 1945 dalam pertempuran melawan pasukan Jepang untuk direbut senjatanya oleh pasukan Musi Ulu Rawas beserta pasukan Suku Anak Dalam dari Rawas Ulu.

Namun ada sumber lain yang membahas asal-usul Letkol Atmo Wiryono, tetapi sangat berbeda dari penjelasan yang telah diuraikan di atas. Perihal gugurnya Letkol Atmo Wiryono di Lubuklinggau, semua sumber mengatakan sama bahwa beliau meninggal di Lubuklinggau tepatnya di Mesat. Apalagi beliau adalah pendatang yang berasal dari Jawa dan bertugas di wilayah Sumatera Selatan pada masa perjuangan revolusi fisik mempertahankan kemerdekaan tahun 1945-1949.

Sumber tersebut ialah buku Sainan Sagiman (1988:31), yang juga teman seperjuangannya, diterangkan bahwa Atmo Wiryono adalah seorang perwira pasukan Legiun Mangkunegaraan (Solo), juga lulusan Sekolah Militer di Breda. Selama periode perang kemerdekaan I, Letkol Atmo Wiryono, Letkol Zainal Abidin Ning, dan Mayor Kiswoto memimpin front Sukarame, disertai juga Lettu Sainan Sagiman sebagai komandan C.I. yang bergerilya sekitar Lahat, Pagaralam dan Tebing Tinggi. Mereka sering tidur di rel kereta api, supaya tidak disergap oleh Belanda pada malam hari. Atmowiryono selalu memakai sarung, berjas militer, bersepatu karet seperti sepatu kebun, dan selalu open cap, tidak bertopi. Bentuk tubuhnya kecil berkulit hitam, ringkih, dan tidak kekar. Saat bergabung dengan Sub Komandemen Sumatera Selatan (SUBKOSS) di Lubuklinggau, beliau tewas ketika sedang mencoba sebuah mortir buatan sendiri, kiriman dari Sawahlunto. Mortir ini meledak, ketika Atmo Wiryono mencoba menembakkannya.  

Berbicara mengenai Legiun Mangkunegaraan, maka perlu diketahui terlebih dahulu sejarah dari keraton Mangkunegaraan di Surakarta. Dalam buku ‘Sejarah Tentara’ Petrik Matanasi (2011:29) menjelaskan bahwa Legiun Mangkunegara ini merupakan pasukan yang dibentuk tahun 1808 sebagai lanjutan dari pasukan Pangeran Mangkunegoro I dan masih dipertahankan ketika pangeran itu menghentikan perlawanan terhadap VOC. Setelah pangeran itu meninggal, anggota pasukan yang asli dibubarkan dan diganti. Kekuatan pasukan ini pernah mencapai 3 batalion, komandan pasukan itu diberi pangkat Letnan Kolonel atau Kolonel. Umunnya perwira Legiun Mangkunegara berasal dari bangsawan dan priyayi Keraton Mangkunegara Surakarta. Pasukan-pasukan pribumi ini masih meneruskan sebagian tradisi militer Indonesia asli, walaupun sedikit terpengaruh oleh tradisi militer Barat KNIL yang dibawa Belanda. Dalam pasukan itu, jumlah perwira keraton jelas lebih banyak dan kebanyakan masih menjaga tradisi asal dibanding perwira pribumi yang aktif dalam dinas militer KNIL.

Dari pernyataan di atas, asal usul dari Letkol Atmo Wiryono adalah seorang perwira pasukan Legiun Mangkunegaraan yang disebutkan dalam buku Sainan Sagiman (1988:31) bisa saja terjadi. Namun sumber-sumber yang penulis himpun tidak terdapat penjelasan bagaimana Letkol Atmo Wiryono pergi meninggalkan keraton Mangkunegara menuju Pulau Sumatera. Maka hingga saat ini kisahnya masih menjadi misteri.   

Lain halnya seperti Mayor Jenderal Suhardjo Hardjowardoyo yang menjadi panglima Komandemen Sumatera, beliau juga salah satu tokoh perwira Legium Mangkunegaraan, namun akhirnya hijrah ke Tanjung Karang, Lampung dengan alasan memiliki masalah perdata terkait pemalsuan yang juga melibatkan Liem Tjiem Goen. Sehingga di Lampung, Raden Suhardjo lantas bekerja sebagai perwira kepolisian sampai masa pendudukan Jepang. Hingga pada akhirnya menjadi Kepala Polisi di Lampung pasca proklamasi kemerdekaan, hingga bergabung Tentara Keamanan Rakyat (TKR) menjadi panglima Komandemen Sumatera yang diputuskan oleh dr. AK. Gani sebagai koordinator/organisator pembentukan TKR Sumatera (Artikel di Tirto.id terbit 08 Juli 2021 berjudul ‘Di Lampung, perwira TKR saling cakar karena saling tidak percaya’ ditulis Petrik Matanasi).

 

Selengkapnya baca: Musi Ulu Rawas dalam Kajian Sejarah Lokal tahun 2022 oleh Berlian Susetyo, Muhammad Wahayuni, dan Ravico



Referensi:

1.    Arsip Wawancara Abi Hasan Said tahun 1990 dari Museum Perjuangan Subkoss Garuda Sriwijaya.

2.    Buku “Perjuangan Kemerdekaan di Sumatera Bagian Selatan 1945-1949” ditulis oleh H. Alamsyah Ratu Perwiranegara tahun 1987.

3.    Buku “Sekelumit Sejarah Perjuangan Subkoss Garuda Sriwijaya Sumatera bagian Selatan” ditulis oleh H. Abd. Aziz Maaruf tahun 1989.

4.    Buku “Sekilas tentang Hidup dan Pengabdian H. Sainan Sagiman” disusun oleh Djazari Mansyur dan Amin Sarwoko tahun 1988.

5.    Buku “Sejarah Tentara” ditulis oleh Petrik Matanasi tahun 2011.

6.    Buku “6 Suara untuk Pak Dirman; Kolonel Muhammad Nuh Kepala Staf Komandemen Sumatera Penentu Kolonel Sudirman menjadi Panglima Besar TKR” ditulis oleh Noor Johan Nuh tahun 2019.

7.    Buku “Monumen Letkol Atmo” ditulis oleh Suwandi Syam tahun 2005.

8.    Website “Tirto.id” oleh Petrik Matanasi tahun 2021.

Sejarah SS (Jawa Kanan SS) di Lubuklinggau

Tahukah kamu asal muasal istilah SS dari salah satu nama kelurahan di Kota Lubuklinggau yaitu Jawa Kanan SS ? SS itu bukan Simpang Swalayan, bukan juga Simpang Stasiun, apalagi Sarang Setan yaa. Terus apa donk. Yukk simak sejarahnya berikut ini.


Lubuklinggau menjadi rute terakhir pemberhentian jalur kereta api yang dibangun masa Kolonial Hindia Belanda dari Kertapati, Palembang tahun 1914 hingga sampai ke Lubuklinggau yang dibuka pada tanggal 1 Juni 1933. Perusahaan kereta api pemerintah Hindia Belanda bernama Staatsspoorwegen (disingkat SS) ialah maskapai kereta api pemerintah kolonial yang memiliki tugas membangun jaringan kereta api, baik di Jawa maupun Sumatera. Divisi SS untuk wilayah Sumatera Selatan dan Lampung yaitu maskapai ZSS (Zuid Sumatera Staatsspoorwegen) bertugas untuk membangun jaringan di regional ini. Alhasil, Lubuklinggau menjadi kota transit terakhir perjalanan kereta api yang mengangkut hasil bumi dan angkutan penumpang orang.


Itulah mengapa wilayah Kelurahan Jawa Kanan yang masuk lokasi pemberhentian kereta api sering disebut SS, ialah berasal dari nama Staatsspoorwegen (disingkat SS). Sekarang maskapai SS sudah menjadi PT. KAI.


Rute terakhir Muara Saling - Lubuklinggau sebenarnya merupakan bagian dari masterplan jalur kereta api Trans Sumatra versi Pemerintah Kolonial Hindia Belanda, yang nantinya akan mempersatukan jalur-jalur kereta api oleh maskapai Atjeh Tram di Aceh, Deli Spoorweg Maatschappij di Medan, dan Staatsspoorwegen Sumatra Westkust di Padang. Masterplan ini dibuat untuk menyambut 50 tahun perusahaan Staatsspoorwegen berkarya di tanah Jawa dan Sumatra. Akan tetapi, Krisis Besar (malaise) yang terjadi di akhir dekade 1920-an menyebabkan rencana ini gagal. Akibatnya, jalur berakhir sampai di Lubuklinggau saja.


Selengkapnya baca: Sejarah Lubuklinggau dari Masa Kolonial hingga Kemerdekaan tahun 2021 oleh Berlian Susetyo dan Ravico

POSTINGAN TERBARU

Gedung Museum Subkoss terbaru 2024

 

POSTINGAN POPULER