Tulisan Bergerak

Selamat Datang. Selamat Mengunjungi halaman blog saya. Semoga anda menyukainya dan menemukan apa yang engkau cari. Terima Kasih. Barakallah.

Minggu, 01 Februari 2015

ASAL USUL SILAMPARI

Kabupaten Musi Rawas dan kota Lubuklinggau dikenal juga sebagai kota SILAMPARI dimana berasal dari kata :
·                     Silam  =  hilang/sirna
·                     Pari     =  Peri/putri

Ada dua versi cerita yang menjelaskan asal mula kata Silampari :
Cerita 1
Pada zaman dahulu kala ada 7 bidadari yang sedang turun dari kayangan (kerajaan di langit) untuk mandi di sebuah telaga, dimana pada saat itu hanya terdapat sebuah telaga yang masih terdapat airnya, dikarenakan adanya musim kemarau yang panjang.
Tapi naas bagi bidadari bungsu karena selendang yang dimilikinya hilang diambil oleh seorang pemburu sehingga ia tak dapat pulang lagi kelangit.
Pemuda tersebut bernama Bujang Penulup yang artinya seorang pemburu binatang yang menggunakan alat buru berupa tulup atau sumpit. Sedangkan putri bungsu tersebut bernama Sringga Pisat.

Suatu saat bidadari tersebut menemukan pakaian yang disembuyikan oleh Bujang Penulup, kemudian bidadari tersebut dapat pulang kelangit, namun bujang penulup melihatnya, maka dia berkata “SILAMPARI” (Putri hilang). Karena putri yang ingin kembali berangsur-angsur menghilang.
Cerita 2
Dahulu kala ada seorang raja bernama Raja Biku 8 dewa dan permaisurinya bernama Putri Ayu Selendang Kuning, Raja ini terkenal dengan kesaktiannya yang tiada tanding karena kepandaiannya terbang. Ilmu 8 dewa yang dia miliki diantaranya: Dewa api, dewa matahari, dewa udara, dewa angin, dewa air,………
Setelah 10 thn berkeluarga raja belum juga memiliki keturunan, akhirnya dia mengakui kelemahannya. Kemudian turun lah dewa mantra sakti tujuh dari langit yang turun dipuncak bukit Rimbo Tenang untuk menolong Raja Biku.
Sang Raja disuruh bertapa/semedi untuk mendapatkan kembang tanjung kelopak enam helai melalui sukma mantra (hanya sukma saja yang pergi). Bunga tanjung digunakan untuk mandi putri dengan ramuannya kembang tanjung kelopak enam, daun pandan, daun purut, dan akar wangi kesemua direndam jadi satu lalu dipakai mandi dan sisanya diminum.
Setelah putri tersebut meminumnya mulailah putri hamil dengan enam kehamilan yang normal sehingga putri mendapatkan enam anak yaitu 1 laki-laki dan 5 perempuan. Nama anak-anak raja tersebut adalah :
1. BUDUR
2. DAYANG TARE
3. DAYANG DERUJA
4. DAYANG DERUJI
5. DAYANG AYU
6. DAYANG IRENG MANIS
Jumlah anak tersebut sesuai dengan jumlah kelopak kembang tanjung yang diberikan. Tetapi Raja Biku memiliki perjanjian yaitu semua akan kembali seperti semula (SILAM).
Saat itu pun tiba, mula-mula yang hilang adalah putri Dayang Tare karena dia yang pertama kali mengadu kepada dewa tentang deritanya di dunia, dia hilang di Rimbo Tenang.
Kemudian yang hilang selanjutnya, yaitu Dayang Deruja yang hilang di Rejang Rebo dan diberi tanda pohon ketapang kuning.
Kemudian Dayang Ayu, Dayang Ireng Manis Dayang Deruji beserta ibunya hilang di bukit ayu.
Raja Biku hilang di laut cina sedangkan Budur hilang di Ulak Lebar. Karena putra-putri hilang maka masyarakat berkata “SILAMPARI” (Putri yang hilang).
Nara Sumber : Drs H. Suwandi, M.Pd
Yayasan Perjuangan Subkoss Garuda Sriwijaya Kab. Musi Rawas.


Mahasiswa STKIP PGRI Lubuklinggau, Program Studi Pendidikan Sejarah, Angkatan 2014.

Ini adalah foto Mahasiswa Program Studi Pendidikan Sejarah Kelas B Semester 1 saat berkunjung ke Situs Peninggalan Kerajaan Sriwijaya, di Palembang, Sumatera Selatan pada tanggal 10-12 Oktober 2014.
Foto ini diambil tepat didepan MESS Pemerintah Kota Lubuklinggau.


Di Palembang, kami mengunjungi Bukit Siguntang, Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya, Museum Balaputera Dewa, Museum Sultan Mahmud Badaruddin II dan juga mengunjungi Universitas PGRI Palembang dalam rangka silaturahmi.

Kamis, 28 Agustus 2014

Karang Taruna " IRPU " Periode 2014 -2016 di Kelurahan Pasar Padang Ulak Tanding





     Karang Taruna " IRPU " ialah organisasi pemuda masyarakat yang berada pada wilayah Kelurahan Pasar Padang Ulak Tanding, Kecamatan Padang Ulak Tanding, Kabupaten Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu. Karang Taruna ini sudah berdiri sejak lama namun karena faktor tertentu menjadikan organisasi ini tak ada kinerja yang diterjunkan pada masyarakat. Organisasi ini berjalankan atas partisipasi masyarakat khususnya untuk pemuda kelurahan sendiri untuk mengadakan acara-acara kegiatan seperti Perlombaan, Sosialisasi, dan lain sebagainya.

    Setelah lama fakum, maka Karang Taruna ini kembali dibentuk dengan anggota pemuda yang baru dengan masa bakti 2 tahun yaitu pada tahun 2014 ini sampai dengan 2016 yang diketuai oleh Ari Sandika Putra. Pada tahun ini untuk periode kami tahun 2014-2016, kami telah berhasil mengadakan acara "Perlombaan untuk peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 69" dimana perlombaan di adakan di Lapangan Pasar Padang Ulak Tanding setelah upacara selesai. Walaupun hanya tingkat kelurahan saja, namun cukup menyenangkan bagi kami atas terselenggaranya acara perlombaan tersebut, dengan penuh perjuangan dan dedikasi teman-teman anggota, saat penggalangan dana door to door  kerumah warga-warga kelurahan dan penyerahan proposal pada Instansi yang ada untuk rincian biaya untuk perlombaan itu. 

SUKSES DIJALANKAN.

POSTINGAN TERBARU

Gedung Museum Subkoss terbaru 2024

 

POSTINGAN POPULER